Advertisement

Thursday, January 7, 2016

Kasihan.. Nasib Ponari Si Dukun Cilik yang Tak Seperti Dahulu!

author photo
Kembali beberapa tahun kebelakang, Siapa yang tak mengenal Ponari. Nama dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balungsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur, dulu begitu fenomenal di negeri ini. Ribuan pasien rela menunggu untuk mendapat berkah dari Ponari dan batu ajaibnya, bahkan ada yang sampai mengantri selama berhari-hari demi kesembuhan.

pada tahun 2009 lalu tepat dimasa jayanya, tiap hari ratusan bahkan ribuan orang setiap hari berbondong-bondong mendatangi rumah anak tunggal pasangan suami istri Kasim, 40, dan Mukaromah, 28 tersebut.



Namun itu dulu, kini dukun cilik itu telah beranjak remaja. Seiring meredupnya kesaktian yang dimilikinya, tak seperti dulu kini pasien Ponari bisa dihitung dengan jari.

“Sak niki mboten mesti. Kadang wonten setunggal, kadang sepi (sekarang tak menentu. Kadang ada satu orang, kadang sepi pasien),” ujar nenek Ponari, Mbok Legi. Setiap tamu yang datang, meski tak pernah diminta dan dipatok tarif, rata-rata memberikan uang Rp 20.000.

Mukaromah menuturkan, sejak pasien mulai sepi, kini Ponari lebih fokus sekolah. Putra pertamanya itu kembali meneruskan pendidikan yang sempat tertunda 3 tahun lamanya. Kesibukan Ponari menjadi ‘dukun cilik’ membuatnya tak lulus ujian nasional saat kelas VI SD.

Sebagaimana dilansir Detik, status Ponari sebagai dukun cilik memang mengubah hidup Ponari. Setelah secara ekonomi keluarganya naik drastis dari hasil pengobatan Ponari, dukun cilik itu justru enggan ke sekolah, hingga akhirnya tidak mengikuti ujian nasional beberapa waktu lalu.

“Tahun kemarin ikut ujian di program paket A alhamdulillah lulus. Sekarang melanjutkan lagi ke sekolah Tsanawiyah (sekolah Islam setingkat SMP). Baru kelas satu,” tuturnya.

Saat ditanya mengenai materi yang didapatnya dari hasil pengobatan Ponari, keluarga ini mengaku saat itu sempat terkumpul uang Rp 1 miliar lebih dari pasien yang datang. Dengan uang sebanyak itu, dia mampu membangun rumah yang sangat layak, membeli 2 bidang sawah seluas 2 hektar, sepeda motor, dan perabotan rumah tangga.

Mukaromah juga menambahkan jika uang yang jumlahnya fantastis bagi orang kampung itu kini telah habis. Kondisi ekonomi keluarganya pun kembali seperti semula. Ibu dua anak ini mengeluhkan biaya sekolah Ponari yang tergolong mahal. Padahal biaya ujian akhir semester itu hanya Rp 250.000. Bahkan, untuk melahirkan putra ke duanya ia mengalami kesulitan keuangan.

Terkait sepinya pasien Ponari saat ini. Mukaromah memiliki alasan tersendiri sejumlah isu negatif membuat pasien tak lagi datang ke rumahnya.

Keluarga Ponari kini menempati rumah cukup mentereng untuk ukuran desa setempat. Dindingnya terbuat dari tembok dengan cat dominan warna putih, berlantai keramik mengkilap. Padahal, sebelum melakoni praktek perdukunan rumah Ponari terbuat dari anyaman bambu dengan lantai tanah.

Entah apa yang membuat warga Indonesia khususnya sebagian warga Jombang yakin akan kekuatan batu tersebut.

Mari share dan berikan komentarmu!


sumber: hello-pet.com
Next article Next Post
Previous article Previous Post