Advertisement

Monday, January 25, 2016

Tembok Israel, Penjara Terbesar di Dunia bagi Warga Palestina

author photo
Tembok Berlin yang sangat legendaris, yang dibangun pasca Perang Dunia II membelah Kota Berlin jadi dua: Berlin Jerman Barat dan Berlin Jerman Timur, sudah diruntuhkan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai kemenangan Dunia Bebas, Demokrasi dan HAM, terhadap kediktatoran, penindasan, dan rezim represif.



Imperium Komunisme di Eropa Timur dan Uni Soviet memang tiada lagi. Dan Perestroika telah menghancurkan sendi-sendi Marxisme di Soviet. Namun Israel malah meniru kelakuan rezim represif, kediktatoran, tiranik, dan kekejaman, dengan membangun Tembok Pemisah, lewat tangan Zionis-Israel, yang berdiri angkuh membelah Tanah Palestina.

Sejak 16 Juni 2002, Pemerintah Israel membangun Tembok Pemisah di Yerusalem. Panjang tembok seluruhnya 750 kilometer dengan tinggi delapan meter. Dinding beton tebal ini dilengkapi dengan parit perlindungan, kawat berduri, kawat beraliran listrik, menara pengawas, sensor elektronik, kamera video, pesawat pengintai tanpa awak, menara penembak jitu, dan jalanan untuk patroli kendaraan. Intinya: tidak ada kemungkinan menerobos tembok.

Tembok itu dibangun secara zig zag melalui sepuluh dari sebelas distrik; melintasi semua kota di Tepi Barat. Pembangunan tahap pertama mulai dari sebelah barat Tepi Barat hingga utara Yerusalem sepanjang 145 kilometer sudah selesai pada Juli 2003. Tahap kedua sedang berlangsung, mulai dari timut Tepi Barat hingga selatan Yerusalem.


Pembangunan tembok pemisah ini bukan tanpa kendala. Tembok ini memakan biaya yang sangat besar yang jumlah total biaya pembangunannya tidak pernah diumumkan ke publik. Hanya saja, sekadar untuk biaya perawatan tembok menghabiskan dana sebesar US$ 4.7 juta/kilometer. Sehingga keseluruhan dana yang dibutuhkan Israel untuk perawatan tembok pemisah sepanjang 730 kilometer tersebut sebesar US$ 3.4 Milliar (Rp 33 Trilliun).

Dengan dibangunnya Tembok Pemisah antara Jalur Gaza dan wilayah Israel, mobilisasi rakyat Palestina menjadi sangat terbatas. Tidak setiap orang dapat keluar dari tembok pemisah. Kalaupun bisa, perbatasan dijaga dengan sangat ketat, dan harus melalui prosedur pemeriksaan yang berlapis-lapis. 1,5 Juta penduduk Jalur Gaza yang berada di dalam tembok, diblokir Israel. Keberadaan tembok ini memudahkan Israel melakukan blokade kepada penduduk Jalur Gaza.



Sebenarnya pada tahun 2004, Pengadilan Internasional di Den Haag mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa tembok pembatas yang dibangun Israel itu ilegal dan harus dibongkar. Namun Israel tidak mengindahkan resolusi itu dan tetap meneruskan pembangunan tembok pembatas tersebut.

Terlebih hasil pemilu Palestina pada 2007 yang dimenangkan oleh Hamas, kelompok anti-Israel garis keras, membuat Israel murka. Karena itu sejak pertengahan Juni 2007, seluruh pintu perbatasan laut, udara, dan darat antara Jalur Gaza dengan wilayah sekitarnya, ditutup. Termasuk perlintasan Erez dan Sovia (Gaza-Israel), Rafah (Gaza-Mesir), dan Karen Shalom (Gaza-Mesir-Israel). Lalu lintas penumpang, barang, dan jasa pun sangat dibatasi. Sehingga pasokan bahan makanan, air, listrik, obat-obatan, dan material lain pun menipis.

Tidak hanya blokade yang diderita penduduk Jalur Gaza, Tembok Pemisah juga memisahkan seorang kekasih dari pasangannya yang berada di luar tembok. Ia juga memisahkan suami dari istrinya dan ayah dari anak-anaknya kalau ia dipenjarakan Israel. Ia memisahkan penduduk Jalur Gaza dengan pekerjaannya mencari nafkah karena kebutuhan sehari-hari yang harganya semakin melambung akibat blokade. Yang paling penting, Israel membangun ‘penjara’ bagi penduduk Jalur Gaza yang tidak berdosa.

Pembangunan Tembok Pemisah yang berhasil dari sudut pandang Israel ini bukan berarti tanpa protes. Tentangan pertama datang dari penduduk yang wilayahnya dikelilingi Tembok Pemisah, mereka tidak ingin diblokir. Tantangan kedua datang dari masyarakat internasional. Tentu saja isolasi yang dilakukan Israel selama ini adalah pelecehan kemanusiaan.



Darimana sumber pembiayaan tembok yang begitu fantastis tersebut berasal?

Mengingat Zionis-Israel merupakan satu-satunya negeri yang tidak terlalu mementingkan pertumbuhan perekonomian dan terlalu sibuk dengan pertumbuhan kekuatan militer, maka Israel lewat jaringan perusahaan-perusahaan Zionisnya yang tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia, merayu warga dunia agar mau membelanjakan uangnya membeli produk-produk pendukung Zionisme (silakan lihat daftar produk pendukung Zionisme di www.inminds. Co. Uk). Dengan membeli produk pendukung Zionis tersebut, kita telah ikut menghidupi Zionis-Israel secara aktif.
Aksi internadional penentang tembok, Organisasi Sendamessage yang berbasis di Belanda
Organisasi Sendamessage yang berbasis di Belanda akan menggelar aksi menentang tembok pemisah atau yang dikenal sebagai "tembok apartheid" yang dibangun Israel di Tepi Barat. Aksi tersebut dilakukan dengan cara menuliskan surat terbuka di sepanjang "tembok apartheid" tersebut.

Direktur Sendamessage, Justus van Oel dalam situs resmi organisasi tersebut mengatakan, aksi surat terbuka menentang tembok pemisah Israel di Tepi Barat akan berlangsung selama delapan hari. Siapa saja di seluruh dunia yang ingin menyampaikan pernyataan menentang tembok itu, bisa mengirimkannya melalui situs Sendamessage, kemudian pesan-pesan tersebut akan dituliskan kembali di "tembok apartheid" Israel di sisi Timur oleh para aktivis Belanda dan Palestina.

Penulisan surat terbuka dari masyarakat dunia yang menentang tembok pemisah itu sudah dimulai sejak hari Kamis kemarin. Diantara tokoh masyarakat internasional yang ikut memberikan pernyataan terbukanya menolak pembangunan tembok itu adalah penulis asal Afrika Selatan, Farid Esack. Surat-surat terbuka ini diperkirakan akan memenuhi tembok sepanjang 2.500 meter dimulai dari kota Ramallah dan aksi penulisan surat terbuka tersebut akan didokumentasikan oleh kru film dari Belanda.

Saat ini, sudah ada 850 pesan terbuka yang dituliskan ke "tembok apartheid" Israel sejak Sendamessage menggelar aksi menolak tembok pemisah Israel pada Desember tahun 2007. Pihak Sendamessage menyeleksi terlebih dulu pesan-pesan yang masuk lewat situsnya, sebelum dituliskan ke tembok tersebut.

"Kami memilih pesan-pesan yang akan ditulis agar tidak terkesan menimbulkan provokasi, tapi merupakan pesan yang berimbang dan akademis dan bukan pesan propaganda murahan," kata Van Oel.

Penulis dan politisi asal Afrika Selatan, Farid Esack misalnya, dalam pesan terbukanya yang ditulis di tembok pemisah Israel mengatakan bahwa kondisi rakyat Palestina jauh lebih buruk dari kondisi rakyat Afrika Selatan ketika kebijakanapartheid diberlakukan di negeri Afrika itu.

"Saya berasal dari Afrika Selatan yang pernah mengalami kebijakan apartheid. Penganut apartheid fanatik paling gila sekali pun tidak akan pernah memimpikan hal mengerikan seperti tembok ini," kata Esack yang pernah bekerja pada tokoh perdamaian Afrika Selatan, Nelson Mandela ini.

"Di negeri Anda (Palestina), kami melihat sesuatu yang lebih brutal, biadab dan tidak berperikemanusiaan dibandingkan yang pernah kami lihat dibawah kebijakan apartheid di negeri kami. Polisi apartheid tidak pernah menggunakan anak-anak sebagai tameng hidup, militer apartheid tidak pernah menggunakan senjata dan bom untuk membunuh warga sipil seperti yang terjadi di sini," tukas Esack mengecam kebrutalan polisi dan tentara-tentara Israel terhadap rakyat Palestina.
Tembok pemisah atau "tembok apartheid" yang dibangun rezim Zionis Israel di Tepi Barat, panjangnya lebih dari 900 kilometer dan menyebabkan banyak warga Palestina yang terpisah dari keluarganya yang lain dan hidup dibawah kesengsaraan akibat berdirinya tembok tersebut.



Bagi rakyat Palestina, tembok itu adalah bagian dari upaya Israel untuk merampas tanah air mereka. Dunia internasional juga banyak yang mengecam dibangunnya tembok itu. International Court of Justice (ICJ) sudah mengeluarkan pernyataan bahwa tembok itu ilegal dan menuntut Israel membayar kompensasi pada rakyat Palestina. Asosiasi-asosiasi perlindungan HAM di Israel dalam laporannya belum lama ini juga menyatakan bahwa kebijakan-kebijakan Israel di Tepi Barat sama dengan kebijakan apartheid yang pernah diberlakukan di Afrika Selatan.

Direktur Sendamessage, Van Oel menyatakan, aksi penulisa surat terbuka dan grafiti di tembok pemisah Israel akan menjadi pesan yang jelas bahwa kebijakan apartheid tidak akan pernah bisa menjadi solusi jangka panjang bagi konflik Israel-Palestina.
Next article Next Post
Previous article Previous Post